Wednesday, 18 March 2020

Resume Makalah Sistem Informasi Manajemen: Konsep Keunggulan dan Kompetitif

RESUME MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Reizal Rais Asshidqi
11170850000084
Prodi Perbankan Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta

Judul Makalah
Konsep Keunggulan Kompetitif
Penyusun
Muhammad Farhan Aldiansyah, Zulfa Fauziyyah, Nur Agnessya Fithra Asmar, Nadila Humaira dan    Devi Dwi Sulastri.
Tempat dan Tanggal Resume
Depok, 18 Maret 2020



PENDAHULUAN

B. Definisi Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen (SIM) menurut O’Brien (2002) dikatakan bahwa Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah suatu sistem terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu organisasi. Tujuan SIM, yaitu:
1.       Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga
pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
2.       Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan,
pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
3.    Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.  

Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh perusahaan dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan perusahaan lainnya untuk meningkatkan value (nilai) perusahaan baik dalam hal peningkatan laba maupun citra perusahaan. Contoh perusahaan-perusahaan telekomunikasi berusaha untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya.
Menurut James O’Brien (2006: 43), Terdapat 5 Strategi dasar dalam bersaing menuju keunggulan yang kompetitif :
a.    Strategi Biaya (Cost Leadership Strategy), yaitu menjadikan produsen dengan biaya yang rendah, memberikan harga yang lebih murah terhadap pelanggan, menurunkan biaya dari pemasok, atau meningkatkan biaya pesaing untuk tetap bertahan di industry.
b.   Strategi diferensiasi (Differentiation Strategy), yaitu mengembangkan cara-cara untuk membedakan produk/jasa yang dihasilkan perusahaan terhadap pesaing sehingga pelanggan menggunakan produk/jasa karena adanya manfaat atau fitur yang unik.
c.   Strategi inovasi (Innovation Strategy), yaitu memperkanalkan produk/jasa yang unik, atau membuat perubahan yang radikal dalam proses bisnis yang menyebabkan perubahan-erubahan yang mendasar dalam pengelolaan bisnis.
d.  Strategi pertumbuhan (Growth Strategies), yaitu dengan mengembangkan kapasitas produksi secara signifikan, melakukan ekspansi ke dalam pemasaran global, melakukan diversifikasi produk/jasa baru, atau mengintegrasikan ke dalam produk/jasa yang terkait.
e.    Strategi aliansi (Alliance Strategies), yaitu membentuk hubungan dan aliansi bisnis yang baru dengan pelanggan, pemasok, pesaing dan lain.
Selain 5 dasar strategi kompetitif, investasi didalam teknologi informasi dapat mendukung perusahaan dalam bersaing, berikut adalah gambaran peran teknologi informasi dan contoh penerapannya.
a.  Penerapan teknologi informasi akan meminimalkan biaya bisnis  proses, baik dalam hubungannya dengan konsumen maupun supplier.
b.      Meningkatkan service / layanan yang diberikan kepada pelanggan.
c.       Pemanfaatan teknologi informasi meminimalkan pesaing.
d.      Inovasi produk baru yang melibatkan teknologi informasi sebagai komponennya.
e.       Menciptakan pasar yang baru.
f.        Meningkatkan kualitas dan efisiensi serta mempersingkat waktu layanan pelanggan.
g.      Menggunakan IT untuk pengembangan bisnis (business development), mengatur bisnis secara regional dan global. Membangun sistem informasi yang terhubung dengan internet dan extranet untuk support hubungan bisnis dengan costumer, supplier, sub-kontraktor, dsb.
Menurut James O’Brien (2006: 44), terdapat gambaran 5 Strategi dasar dalam Penggunaan Teknologi Informasi:
 
Keunggulan kompetitif merupakan jantung dari kinerja perusahaan dalam pasar yang kompettitf. Selain itu, keunggulan kompetitif merupakan tentang bagaimana sebuah perusahaann benar-benar menepatkan strategi-strategi ke dalam praktik (Porter, 1985).
Sistem informasi dapat mencapai keunggulan kompetitif pada tiga tingkatan, yaitu:
a.  Keunggulan strategis (strategic advantage), adalah keunggulan  yang memiliki dampak fundamental dalam membentuk operasi perusahaan.
b.     Keunggulan taktis (tactical advantage), perusahaan mendapatkan keunggulan taktis (tactical advantage) ketika perusahaan tersebut mengimplementasikan strategi dengan cara yang lebih baik dari  para pesaingnya.
c.  Keunggulan operasional (operational advantage), adalah keunggulan yang berhubungan dengan transaksi dan proses sehari-hari. Disinilah sistem informasi akan berinteraksi secara langsung dengan proses.
Bagi banyak perusahaan, nilai bisnis utama mereka untuk menjadi bisnis yang berfokus pada pelanggan terletak pada kemampuan mereka untuk mempertahankan pelanggan itu loyal, mengantisipasi kebutuhan masa depan, menanggapi keprihatinan pelanggan, dan menyediakan
layanan berkualitas tinggi kepada pelanggan.
Fokus pada strategi nilai pelanggan diakui bahwa kualitas, bukan harga, telah menjadi penentu utama dalam persepsi pelanggan nilai. Dari sudut pandang pelanggan, perusahaan yang secara konsisten menawarkan nilai terbaik mampu melacak preferensi setiap pelanggan, mengikuti tren pasar, penyediaan produk, layanan dan informasi, kapan saja, di mana saja, dan menyediakan layanan pelanggan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pelanggan.
Teknologi internet dapat membuat pelanggan menjadi titik fokus dari manajemen hubungan pelanggan (CRM), e-bisnis dan aplikasi lainnya.  Sistem CRM, Internet, intranet dan extranet menciptakan saluran baru untuk komunikasi interaktif dalam perusahaan dan pelanggan , dan dengan pemasok , mitra bisnis dan lain-lain dalam lingkungan eksternal.
Rantai nilai (Value Chain) adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa (Porter, 1985). Menurut konsep ini, kegiatan perusahaan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu kegiatan utama (primary activities) dan kegiatan pendukung (support activities). Kegiatan utama dibagi menjadi lima, yaitu:
a.       Logistik masuk (inbound logistic)
b.      Manajemen Operasi (operations)
c.       Logistik keluar (outbound logistic)
d.      Pemasaran dan penjualan (marketing and sales)
e.       Pelayanan (service)
       Serta kegiatan pendukung dibagi menjadi empat, yaitu:
a.       Infrastruktur perusahaan (firm infrastructure)
b.      Manajemen SDM (human resource)
c.       Teknologi (technology)
d.      Pengadaan (procurement)
Hammer dan Champy (1993) mengatakan bahwa Proses Ulang Rekayasa (Business Process Reengineering) adalah pemikiran Ulang yang mendasar dan rancangan ulang yang radikal dari suatu proses bisnis untik mencapai perbaikan yang dramatis.
a.   Teknis Pelaksanaan Rekayasa Ulang Proses Bisnis (Business Process Reengineering / BPR)
1)      Pendekatan perancangan ulang secara sistematis (systematic redesign)
2)      Pendekatan “kertas kosong” (clean sheet).
b.      Tahapan-tahapan Rekayasa Ulang
Tahapan Rekayasa Ulang yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
 1)      Memahami proses yang berlangsung
 2)      Mengidentifikasi titik lemah pada proses yang ada
 3)      Mencari peluang pemakaian TI.
 4)      Membuat model proses baru yang efisien.
c.       Karakteristik Rekayasa Proses Bisnis
Karakteristik BPR menurut Hammer & Champy (1993):
 1)      BPR dilakukan dengan menggabung beberapa pekerjaan menjadi satu.
 2)      Karyawan-karyawan diberi wewenang untuk mengambil keputusan.
 3) Tahapan BPR dilakukan dengan urutan semestinya, tetapi beberapa pendapat dilakukan bersamaan.
 4)      Proses-proses mempunyai versi berganda.
 5)      Pekerjaan-pekerjaan dapat dilakukan di tempat-tempat yang dipandang beralasan.
 6)      Pengendalian dan pengecekan dan pekerjaan-pekerjaan tambahan lainnya yang tidak memberikan nilai tambah diminimalkan.
 7)       Rekonsiliasi diminimalkan.
 8)      Suatu titik kontak tunggal disediakan untuk pelanggan.
 9)      Gabungan operasi terpusat dan terdesentralisasi digunakan.
Agile competition adalah kemampuan perusahaan untuk beroperasi untung dalam lingkungan kompetitif yang mencakup perubahan preferensi pelanggan, kondisi pasar, dan kesempatan bisnis yang berlangsung secara terus menerus dan untuk predictable.
a.      Pelanggan
Fokus ke pelanggan adalah kunci utama untuk sukses dalam persaingan bisnis yang semakin ketat terutama di dalam e-Bisnis. Pelanggan biasanya ingin berbisnis secara kontinu berdasarkan aspek kecepatan, kemudahan, personalisasi/individu, dan harga.
b.      Sumber Daya Manusia dan Masa Kini
Kunci utama selanjutnya adalah karyawan. Karyawan merupakan aset berharga bagi setiap perusahaan. Kunci keberhasilan kerja perusahaan tergantung pada karyawan itu sendiri. Dengan merekrut karyawan smart dan mempunyai knowledge akan menghasilkan keputusan bisnis strategis yang smart pula. Itu semua membuat proses kerja (rantai nilai) yang semakin efisien.
c.      Teknologi Informasi
Perusahaan tanpa teknologi informasi dapat dipastikan lambat laun akan ketinggalan. Teknologi informasi akan “membuka” kreativitas dan fleksibilitas untuk inovasi produk/jasa di masa depan. Teknologi informasi dapat menghubungkan perusahaan dengan pelanggan (melalui internet, mobilephone, PDA, dan lain – lain), partner kerja (melalui jaringan EDI, internet, dan lain – lain), bahkan menghubungkan dan memperkuat para karyawan itu sendiri. Akhirnya, teknologi informasi akan menangkap dan menciptakan nilai bisnis yang lebih pada setiap tingkatan di suatu organisasi sebagai berikut.
1)      Pada lini bawah: menyelesaikan banyak pekerjaan dengan lebih cepat.
2)      Pada lini atas: menciptakan new values dari aset organisasi yang sudah ada maupun yang baru ada (knowledge management).
a.       Enterprise Teknologi Informasi
Teknologi informasi dibutuhkan informasi untuk memusatkan suatu kegiatan bisnis, melakukan bisnis dengan baik dan benar, serta menciptakan kreativitas (inovasi) baru atau nilai baru. Berikut ini tantangan baru teknologi informasi sebagai pusat bisnis:
1)    Menghubungkan organisasi maya (The Virtual Company).
2)    Adaptasi terhadap perubahan bisnis secara cepat.
3)    Menghantarkan nilai baru dari lini atas lini bawah dalam suatu organisasi.
b.      Perkembangan Organisasi Maya
Organisasi maya adalah suatu perusahaan yang menggunakan teknologi informasi untuk menghubungkan (link) orang, aset, dan pemikiran (knowledge) dari berbagai rekan bisnis, sumber daya manusia tanpa batas ruang, jarak, dan waktu dalam mengeksploitasi kesempatan bisnis.
c.       Implikasi, Tantangan, dan Perubahan
Digitalisasi arus informasi adalah tujuan utama integrasi dan organisasi maya. Jika dahulu data atau informasi tersebar menjadi “pulau informasi”, tugas integrasi adalah menyatukan dan menghubungkan “pulau informasi” tersebut. Dengan adanya gabungan serta keanekaragaman aplikasi itu, dituntut pula suatu media untuk standarisasi, yaitu internet. Protokol internet dapat digunakan secara global. Akan tetapi, timbul masalah dan konflik untuk penyatuan itu sebagai berikut:
1)     Sistem yang ada tidak di desain untuk bekerja secara bersama – sama.
2)     Proses kerja antar aplikasi yang tidak berkesinambungan.
3)     Biaya integrasi mahal dan memerlukan waktu yang lama sangat berisiko untuk gagal.
4)     Hanya terfokus pada efisiensi dan terlalu banyak cost cutting.
5)     Tidak terlalu memperhatikan sudut pandang konsumen (pelanggan).
d.      Virtual Private Networking
VPN adalah sebuah teknologi untuk menciptakan koneksi aman antara dua buah bagian pada jaringan privat yang menggunakan sarana jaringan internet sebagai sarana komunikasinya sehingga biaya koneksi dapat ditekan seminimal mungkin. VPN ditempatkan pada kedua ujung segmen dari jaringan privat yang saling terhubungi.
Digunakan dua teknologi utama, yaitu tunneling dan enkripsi. Tunneling adalah teknologi yang membuat semacam jalur khusus bagi dua buah segmen jaringan (lorong) untuk melewatkan paket data. Sistem itu akan memperkecil terjadinya penyadapan. Enksripsi adalah teknologi untuk mencapai mengacak kode data. Apabila kode data itu tertangkap oleh pihak lain, data akan dapat diakses secara utuh dan sempurna.
e.       Strategi Untuk Organisasi Maya
1)     Sharing infrastruktur dan risiko.
2)     Adanya link antarberbagai kompetensi utama.
3)     Mengurangi “concept-to-cash time” melalui sharing.
4)     Meningkatkan fasilitan dan cakupan pasar.
5)     Adanya akses ke pasar baru atau memperoleh loyalitas pelanggan.
     Banyak perusahaan saat inni hanya bisa menyadari keuntungankompetitif yang tetap ada jika mereka menjadi perusahaan knowledge-creating. Hal itu berarti secara konsisten menciptakan pengetahuan bisnis baru, menyebarkanya di seluruh perusahaan, dan dengan cepat membangun pengetahuan yang baru ke dalam produk dan layanan mereka. Perusahaan knowledge creating mengeksploitasi dua jenis pengetahuan. Satu adalah pengetahuan yang eksplisit, yakni berupa data, dokumen, dan hal yang tertulis atau tersimpan dalam komputer. Lainnya adalah pengetahuan yang sifatnya diam-diam (tacit), atau “how-tos”, yang berada di dalam diri pekerja. Pengetahuan tacit terkadang bisa menggambarkan beberapa informasi yang paling penting dalam sebuah organisasi.
    Manajemen pengetahuan dapat dianggap sebagai tiga tingkatan yang terdiri atas teknis, teknologi, dan sistem yang mempromosikan pengumpulan, pengorganisasian, pengaksesan, pembagian, dan penggunaan pengetahuan akan lingkungan kerja dan perusahaan.

a.       Document management:
Mengakses dan menerima dokumen yang tersimpan secara online.
b.      Informasi, kreasi, pembagan, dan manajemen:
1)      Menangkap dan mendistribusikan cerita dari para pakar.
2)      Manajemen informasi yang real-time.
3)      Komunikasi dan kolaborasi
4)      Penciptaan konten yang baru
      c.       Kecerdasan perusahan :
1)      Meningkatkan “know-how” di organisasi
2)      Dukungan kinerja
3)      Berinteraksi dengan basis data operasional
4)      Membangun jaringan para pakar